Monday, February 15, 2016

Konsep Kesucian Jiwa dalam Islam

Konsep Kesucian Jiwa dalam Islam
TENTU kita menyadari banyak fenomena di dunia kini yang begitu semakin maju dengan berbagai perubahan menghampiri. Pola pemikiran yang semakin tajam, menjurus, bahkan tidak sedikit banyak orang berlomba lomba menciptakan hal baru yang tentu atas sebuah kebutuhan yang bergejolak di masyarakat kini. Perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat kalangan masyarakat awam hanya bisa menjadi konsumen yang patuh akan sebuah hal baru.
Ketika zaman semakin menampilkan wujud dari akhir sebuah kehidupan yang semestinya dipupuk dengan sebuah keberadaban yang rukun tanpa sebuah perdebatan, pembantian, hinga tumbuh sebuah aliran pemecah dari sebuah keharmonisan rukun agama yang bertengger menampilkan bahwa, ia adalah sang penguasa jagat alam ini haruslah menjadi sebuah kajian yang harus kita ketahui seksama dengan menelaah mana yang baik dan buruk.
Panorama dunia yang kini menghembuskan sebuah fenomena budaya yang menggambarkan akan kilas balik kejahiliaan masa silam, dengan sebuah wujud moral yang tak lazim di nikmati oleh kaum muslim di dunia. Namun, ia menampilkan sebuah awak yang  kini lumrah dijejerkan dan diaplikasikan oleh banyak orang khusunya kaum muslim. Budaya pakaian ala barat yang mengekspresikan sebuah kekinian, akan tetapi keluar dari koridor hijab syar’i yang diajarkan oleh syariat islam itu sendiri  dalam menjaga kehormatan seorang muslim
Pergaulan yang semakin tidak karuhan dengan sebuah kenakalan remaja yang berkembang secara cepat di setiap daerah dengan sebuah awal coba mencoba memakai obat-obatan terlarang yang kemudian terjerumus pada perbuatan nista  sex bebas yang merajalela dengan hilangnya sebuah kesucian yang murni pada diri.
Rehabilitasi
Gundam melihat arus jejak para remaja yang semakin hari tidak mencerminkan ke elokan sosok yang nantinya sebagai aset para penerus bangsa, dengan gejolak maraknya pembodohan masal melalui wahana  kenakalan remaja.
Kearifan KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajun ‘Arifin yang lebih dikenal Abah Anom, dalam mendirikan sebuah pondok remaja inabah sebagai tempat rehabilitasi para pecandu narkoba dan kenalakan remaja dengan metode mandi malam, dzikir dan shalat-shalat sunah lainnya memberikan sebuah refleksi baik akan sebuah kesucian jiwa yang diawali dari sebuah maqom taubat.
Inabah yang berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Sebagai mana tertuang dalam QS. Lukman ayat 15 “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Kembalinya sebuah kesucian jiwa “tazkiyatun nafs” dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat menjadi sebuah pijakan awal melangkah dalam menyucikan jiwa.
Metode yang digunakan oleh inabah melalui Mandi malam memberikan refleksi baik guna lemahnya kesadaran akibat mabuk, mandi malam yang memiliki khasiat mengembalikan saraf-saraf yang putus. Mandi dan wudlu yang dilaksanakan akan menjadikan kesucikan pada tubuh dan jiwa sehingga siap untuk ‘kembali‘ menghadap Allah Yang Maha Suci.
Makna simbolik dari wudlu adalah: mencuci muka, mensucikan bagian tubuh yang mengekspresikan jiwa; mencuci lengan, mensucikan perbuatan; membasuh kepala, mensucikan otak yang mengendalikan seluruh aktifitas tubuh;  membasuh kaki, dan mensucikan setiap langkah perbuatan dalam menapaki sebuah kehidupan yang baik dengan sebuah perilaku terpuji yang terus konsiten.
Penyucian jiwa “tazkiyatun nafs”  dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT tentu memiliki sebuah tahapan, sebuah proses yang kemudian menghantarkan jiwa ini pada kedekatan “muroqobah” pada sang ilahi secara utuh. Dalam kajian tasawuf melalui ahwal (sifat) takhalli, tahalli dan tajalimenjadi landasan dasar sebuah perjalanan seorang salik untuk mencapai  ketetapan bersama dekat dengan Allah SWT.
Takhalli yang menjadi awal dari sebuah pensucian jiwa dengan mengosongkan diri dari sifat sifat tercela seperti syirik, riya, ujub, ghanimah dan lainnya. Kemudian, ditahap yang selanjutnya ialah tahalli, upaya menghiasi diri dengan sifat sifat terpuji yang  mencerminkan jiwa yang baik dibalut dengan sebuah perilaku yang hasanah seperti dermawan, rendah hati, sopan dan sebagainnya. Hal inilah yang mencerminkan sebuah kesucian jiwa atas sebuah batang yang didambakan.
Tahap yang kemudian ialah tajalli, yang merupakan puncak dari tahapan takhalli dan tahalli dalam mencapai sebuah perkenalan dekat dengan Allah SWT pada jiwa yang suci dengan  secara konsisten dihiasi akhlak mahmudah dalam mencapai sebuah muroqobah (kedekatan).
Sebuah cita
Dari banyaknya fenomena pergaulan yang tidak senonoh dengan menampilkan sebuah gaya ke baratan layaknya corak suatu kewibawaan kekinian namun, dibalik itu terselip nilai nilai dan norma yang tentu tidak sesuai dengan budaya negeri pertiwi. Bagi saya, bangsa ini terlah dirasuki ruh ruh kebaratan yang kemudian merasuki para pemuda pertiwi dengan gaya yang sok elegan tanpa melihat dimana iya tinggal dengan budaya yang tidak sama dengan mereka (barat) dalam hal budaya.
Kembali kepada kesucian jiwa sebagai landasan pijak melalui proses taubat dalam kaidah maqom tasawuf merupakan hal yang baik pasca tingkah yang tak sejalur dengan apa yang di ajarkan oleh agama islam. Tingkah laku, pakaian, dan pergaulan yang kini sudah semrau dengan perkembangan zaman yang semakin modern. Pengawasan dan pemberlajaran baik di lingkungan keluarga, sekolah, pesatren dan lingkungan masyarakat tentu harus diperhatikan dalam perkembangan zaman kini.
Melalui program revolusi mental yang diusung oleh pemerintahan Jokowi-JK semoga memberikan sebuah nilai positif pada para pemuda dan masyarakat Indonesia dalam berperilaku dan sopan santun yang mencerminkan sucinya sebuah hati, mengutip penggalan hadits pada kitab arbain an-nawai “di dalam diri manusia terdapat segumpa daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa ia adalah hati”.

Thursday, February 11, 2016

DIBALIK BENCANA ALAM DI DUNIA YANG TERJADI PADA TANGGAL 26, YUK!! BUKA AL-QUR'AN APA PESAN-NYA

Banyak kejadian bencana alam besar terjadi pada tanggal 26. Apa dibalik itu semua?
Umat ​​manusia yang menghuni planet Bumi ini sudah sangat lama. Manusia dengan peradabannya dari masa ke semasa silih berganti selalu dekat dengan bencana alam, baik gempa bumi, banjir, gunung meletus ataupun tsunami.

Uniknya beberapa kejadian bencana alam tersebut terjadi pada tanggal 26. Hal ini tentunya menjadi misteri dengan tanggal 26. Lalu apa pesan Allah dalam Al Qur'an dibalik bencana alam di dunia yang terjadi tanggal 26 ini. Yuk kita lihat kejadiannya, lalu kita buka Al-Quran untuk melihat isi pesan dari ayat 26 dari setiap surat dalam Alqur'an.

Tercatat ada 47 kejadian bencana alam di dunia. Berikut ini data dan fakta Bencana Alam yang terjadi pada tanggal 26 yang dihimpun dari berbagai sumber: 

1). 26 Januari 1531 gempa bumi di Lisbon, Portugal, 30.000 orang tewas.

2). 26 Januari 1700 gempa di Laut Pasifik, dari Vancouver Island, Southwest Canada off British Columbia hingga Northern California, Pacific Northwest, USA. Dikenali sebagai megathrust earthquake. 

3). 26 Julai 1805 gempa bumi di Naples, Calabria, Italy, 26.000 orang tewas. 

4). 26 Ogos 1883 Gunung Krakatau meletus, 36.000 orang dianggarkan terkorban. 

5). 26 Disember 1861 gempa bumi di Egion, Greece. 

6). 26 Mac 1872 gempa bumi di Owens Valley, USA. 

7). 26 Ogos 1896 gempa bumi di Skeid, Land, Iceland. 

8). 26 November 1902 gempa bumi di Bohemia, sekarang Czech Republic. 

9). 26 November 1930 gempa bumi di Izu. 

10). 26 September 1932 gempa bumi di Ierissos, Greece. 

11). 26 Disember 1932 gempa bumi di Kansu, China, 70,000 orang terbunuh. 

12). 26 Oktober 1935 gempa bumi di Colombia. 

13). 26 Disember 1939 gempa bumi di Erzincan, Turki, 41.000 orang tewas. 

14). 26 November 1943 gempa di Tosya Ladik, Turki. 

15). 26 Disember 1949 gempa bumi di Imaichi, Jepun. 

16). 26 Mei 1957 gempa di Bolu Abant, Turki. 

17). 26 Mac 1963, gempa bumi di Wakasa Bay, Jepun. 

18). 26 Julai 1963 gempa bumi di Skopje, Yugoslavia, 1.000 orang terbunuh. 

19). 26 Mei 1964 gempa bumi di S. Sandwich Island. 

20). 26 Julai 1967 gempa bumi di Pulumur, Turki. 

21). 26 September 1970 gempa bumi di Bahia Solano, Colombia. 

22). 26 Julai 1971 gempa bumi di Solomon Island. 

23). 26 April 1972 gempa bumi di Ezine, Turki. 

24). 26 Mei 1975 gempa bumi di N. Atlantic. 

25). 26 Mac 1977 gempa bumi di Palu, Turki. 

26). 26 Disember 1979 gempa bumi di Carlisle, Inggeris. 

27). 26 April 1981 gempa bumi di Westmorland, USA. 

28). 26 Mei 1983 gempa bumi di Nihonkai, Chubu, Jepun. 

29). 26 Januari 1985 gempa bumi di Mendoza, Argentina. 

30). 26 Januari 1986 gempa bumi di Tres Pinos, USA. 

31). 26 April 1992 gempa bumi di Cape Mendocino, California, USA. 

32). 26 Oktober 1997 gempa bumi di Itali. 

33). 26 Januari 2001 gempa bumi di Gujarat, India, 1,000 orang terbunuh. 

34). 26 Januari 2001 gempa bumi di Greece. 

35). 26 Mac 2002 gempa bumi di Mariana Island. 

36). 26 Mei 2002 gempa bumi di New Zealand. 

37). 26 Mei 2003 gempa bumi di Muir Beach, California, USA dan Seven Trees, California, USA. 

38). 26 Mei 2003 gempa bumi di Halmahera, Indonesia. 

39). 26 Mei 2003 gempa bumi di Honshu, Jepun. 

40). 26 Ogos 2003 gempa bumi di Val Verde, California, USA dan Newjersey, USA. 

41). 26 Disember 2003 gempa bumi dahsyat di Bam, Iran, 45.000 orang dianggarkan terkorban, 70% bandar moden di Bam hancur total. 

42). 26 November 2004 gempa bumi di Nabire, Papua, Indonesia. 

43). 26 Disember 2004 gempa bumi dan badai Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, dianggarkan lebih dari 150.000 orang tewas, kerugian material dianggarkan puluhan trilion ringgit. 

44). 26 Mei 2006 Gunung Merapi merapi meletus. 

45). 26 Oktober 2010 Gempa bumi dan tsunami di Mentawai. dianggarkan 311 orang terbunuh dan 502 hilang. 

46). 26 Oktober 2010 Gunung Merapi meletus lagi, mangsanya mencapai 29 orang terbunuh.

47). 26 Nopember 2011,ambruknya jembatan Mahakam Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.


Pesan Ayat 26 Dalam Al-Qur'an

 Dari beberapa surat dalam AAl qur'an ada beberapa surat yang menunjukkan akan peringatan, yuk buka Al-Qur'an dan lihat surat-surat berikut;

Surat Huud Ayat 26.
"agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.”

Surat An Nahl Ayat 26.
"Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah- rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari."

Surat As Sajdah Ayat 26.
"Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat- tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka apakah mereka tidak mendengarkan?"

Surat Faathir Ayat 26.
"Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku."

Surat Shaad Ayat 26.
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan."

Surat Az Zumar Ayat 26.
"Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui."

Surat Asy Syuura Ayat 26.
"dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras."

Surat Al Jaatsiyah Ayat 26.
Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

Surat Qaaf Ayat 26.
"yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat .”

Surat Ath Thuur Ayat 26.
Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah- tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”

Surat Ar Rahmaan Ayat 26.
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa"

Surat Al Muddatstsir Ayat 26.
"Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar"

Surat Al Qiyaamah Ayat 26.
"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan"

Surat An Naba’ Ayat 26.
"sebagai pambalasan yang setimpal"

Surat An Naazi´aat Ayat 26.
"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)"

Surat Al Fajr Ayat 26.
"dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya"

Dari kejadian bencana alam di dunia, amak dapat disimpulkan dari beberapa ayat 26 dalam surat Alqur'an berisi tentang peringatan, azab agar manusia mengetahui. Semoga pesan dari ayat dan beberapa rentetan kejadian bencana pada tanggal 26 bisa kita jadikan elajaran untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Semoga bermanfaat. Tolong share jika memang memberi manfaat. 

Friday, November 13, 2015

Biarkan Aku Hidup Tanpa Jabatan

Biarkan Aku Hidup Tanpa Jabatan
LELAKI berperawakan tinggi itu wajahnya memancarkan semburat cahaya, begitu kemenangan datang. Ubullah, salah satu wilayah jajahan yang dikuasai rezim Persi, dapat ditaklukkan pasukan Muslim.”Allahu akbar, shadaqa wa’dah (Allah Mahabesar, yang menepati janji-Nya),” seru dia dihadapan sisa-sisa pasukan Muslim yang ia pimpin.

Utbah bin Ghazwan, lelaki tersebut, tentu saja tidak segera meninggalkan daerah itu. Ia langsung menunjuk orang-orang yang tepat untuk membangun dan mengembangkan daerah itu menuju kemandirian. Masjid menjadi bangunan pertama dan utama yang ia bangun.

Setelah masjid beserta infrastruktur pemerintahan di kota yang disebut Basrah itu terbentuk, Utbah menulis surat kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Isinya, ia meminta pada Khalifah agar dirinya kembali ke kota Madinah untuk meneruskan tugas-tugas jihad bersama sang Khalifah Umar.

Akan tetapi, permintaan itu tidak dikabulkan oleh Amirul Mukminin. Umar memerintahkan Utbah tetap tinggal dan memimpin penduduk Basrah agar tercipta masyarakat yang hidup di bawah naungan Al-Quran dan As-Sunnah.

Akan tetapi, permintaan itu tidak dikabulkan oleh Amirul Mukminin. Umar memerintahkan Utbah tetap tinggal dan memimpin penduduk Basrah agar tercipta masyarakat yang hidup di bawah naungan Al-Quran dan As-Sunnah.

Mendengar argumen Amirul Mukminin yang kuat, Utbah memutuskan untuk mengikuti perintahnya, seraya berdoa memohon kekuatan menghadapi persoalan pada Rabbnya. Selama beberapa kurun dia terjun langsung bersama pasukannya membina, mendidik, dan mendakwahkan syariat dan nilai-nilai Islam kaffah.

Salah satu taushiah yang kerap dituturkan Utbah pada warga Basrah adalah soal pentingnya hidup zuhud (sederhana). Karena ia bicara dengan keteladanan maka masyarakat dengan cepat menerima dan mempraktikannya. Ia dikenal luas sebagai orang yang tidak hanya pandai bicara tapi juga isiqomah dalam perbuatannya.

Salah satu taushiah yang kerap dituturkan Utbah pada warga Basrah adalah soal pentingnya hidup zuhud (sederhana). Karena ia bicara dengan keteladanan maka masyarakat dengan cepat menerima dan mempraktikannya. Ia dikenal luas sebagai orang yang tidak hanya pandai bicara tapi juga isiqomah dalam perbuatannya.

Menghadapi kelompok orang yang belum menerima gerakan hidup zuhud itu, Utbah dengan tegas mengingatkan manfaatnya serta contoh dari kehidupan Rasulullah SAW. “Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai salah seorang kelompok tujuh, yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian mulut kami pecah-pecah dan luka-luka. Di suatu hari aku beroleh rizki sehelai baju burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepada Sa’ad bin Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku…!
Bukannya kelompok orang kaya itu menerima nasihatnya, ada segelintir dari mereka yang berupaya keras mempengaruhi Utbah. Mereka membanding-bandingkan soal kewajaran hidup sebagai seorang penguasa yang memiliki “kekuatan” di tangannya. Mendengar kisah-kisah seperti itu, Utbah hanya dapat bersabar dan menahan amarah, seraya berkata, “Aku berlindung diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil pada sisi Allah!”

Begitulah, setiap kali mendengar perbincangan tentang dunia dan kemewahan, Utbah tampak takut. Ia takut terhadap dunia yang diyakininya dapat merusak agamanya dan umat secara luas.

Entahlah, apa yang membuat kelompok pembesar di Basrah berhati keras. Nasihat yang berulang kali dilontarkan tak begitu digubris. Suatu hari, karena mereka tidak menerima masukan Utbah sebagai pemimpin mereka, Utbah pun berkeras, “Besok luasa kalian akan lihat pimpinan pemerintahan dipegang orang lain menggantikan aku.”

Beberapa saat setelah peristiwa itu, datanglah musim haji. Utbah tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengadukan masalah yang dihadapinya pada sang Khaliq. Ia mendelegasikan pekerjaan sehari-hari pemerintahan pada salah seorang karibnya.

Di Tanah Suci Utbah menyempurnakan ibadah haji dengan penuh harap dan takut. Air matanya ditumpahkan demi kecintaan pada Rabbnya. Ia pun tak menyia-nyiakan waktu untuk menyampaikan maksud dan keinginannya pada Amirul Mukminin. Ia menemuinya di Madinah.
Setelah diterima Umar, Utbah mengungkapkan isi hatinya bahwa  ia sangat ingin mengundurkan diri dari arena kekuasaan. Ia ingin menjadi rakyat biasa yang senantiasa beribadah dan siap berjihad jika datang perintah.

Keinginannya kali ini pun tak dikabulkan Khalifah Umar. Ia, sebagaimana biasa diungkapkan dalam menghadapi kasus demikian, berkata pada Utbah, “Apakah kalian hendak menaruh amanat di atas pundakku? Kemudian kalian tinggalkan aku memikulnya seorang diri? Tidak! Demi Allah tidak kuizinkan selama-lamanya…”

Pernyataan itu, sekali lagi, membuat Utbah tak dapat berargumen lagi. Ia pun bersiap-siap kembali ke Basrah, wilayah binaannya. Sebelum naik kendaraan ia menghela nafas sesaat. Badannya dihadapkan ke arah kiblat.

Sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke langit ia memohon supaya tidak dikembalikan ke Basrah dan tidak pula memimpin di sana. Di benaknya masih tertanam perilaku sekelompok pembesar yang tak bisa menerima ajakan hidup zuhud, wara’, dan menegakkan keadilan. Itu mengakibatkan penduduk lain terpengaruh dengan kelompok tersebut.

Dengan sisa-sisa tenaganya ia berangkat ke Basrah untuk memenuhi tugas Khalifah. Takdir Allah menentukan seorang Utbah harus wafat di tengah perjalanan antara Madinah dan Basrah. Kesyahidannya membawa jalan baginya tetap istiqamah pada hidup zuhud. Tanpa gelar dan jabatan. 


Tuesday, November 10, 2015

Aku Selalu Ingin Menyembah Allah Secara Sembunyi-sembunyi

Aku Selalu Ingin Menyembah Allah Secara Sembunyi-sembunyi
ABDULLAH Ibnul Mubarak berkisah. “Pada suatu hari, aku berada di kota Mekkah. Pada saat itu Mekkah sedang dilanda peceklik dan kemarau panjang. Maka semua orang tanpa terkecuali, baik orang besar maupun kecil, bersama-sama melakukan shalat istisqa agar Allah menurunkan hujan kepada mereka, sehingga mereka dapat mengairi pepohonan dan memberikan minuman kapada hewan mereka.
Ketika itu, aku tengah duduk di pintu Bani Syaibah. Lalu aku melihat seorang budak budak hitam yang berpakaian lusuh dan kumuh tengah berdo’a di tempat yang tersembunyi di Masjidil Haram yang jauh dari penglihatan orang lain.
Aku mulai mendekatinya perlahan dan mendengarkan do’anya meminta pertolongan kepada Allah. Dengan penuh kekusyukan, ia terus berdoa dan memohon kepada Allah agar mau menurunkan hujan untuk manusia pada saat itu.
Tidak lama kemudian, setelah ia selesai berdoa, Allah menurunkan hujan di semua penjuru. Sedangkan si budak itu masih berdiam di tempat duduknya sambil terus bertasbih dan bersyukur kepada tuhannya. Kemudian setelah ia beranjak, aku mengikutinya dari belakang, sampai aku dapat mengetahui tempat tinggalnya.
Esok harinya, aku mendatangi pemilik si budak berniat untuk membelinya. Pemilik si budakpun menyetujuinya dan menjual budaknya kepadaku. Setelah berkenalan dengan budak hitan itu, aku menilai bahwa ia memiliki sifat zuhud.
Ia mengatakan kepadaku bahwa ia akan makan dari hasil jerih upayanya. Jika ia mendapatkan rezeki, ia akan makan. Tapi jika ia tak mendapatkan rezeki maka ia tertidur dengan keadaan lapar.
Setelah menyelesaikan sholat, ia mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Abu Abdurahman, apakah Anda menginginkan sesuatu dariku? Karena, aku akan segera pergi saat ini juga.’
Aku pun bertanya, ‘Kamu mau pergi kemana?’
Ia berkata, ‘Aku mau pergi ke akhirat.’
Lalu aku katakan kepadanya, ‘Jangan lakukan hal itu! Berilah aku kesempatan untuk membahagiakanmu dan menikahkanmu dengan seorang wanita.’
Akan tetapi jawaban yang ia berikan, ‘Aku tidak akan dapat menikmati indahnya kehidupan setelah terbuka rahasia hubungan yang terjalin antara diriku dangan Allah. Aku selalu ingin menyembah Allah secara sembunyi-sembunyi. Karena ibadah yang paling ikhlas adalah yang dilakukan secara tersembunyi.’
Setelah mengucapakan kata-kata itu, ia bersujud sambil berkata, ‘Wahai Tuhanku, ambillah nyawaku! Ambillah nyawaku!’
Kemudian aku mendekatinya. Dan ternyata, ia telah wafat.”

Friday, April 10, 2015

Biografi Imam Asy-Syafi`i Imam Ahlus Sunnah

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”. NASAB BELIAUKunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).

TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN

Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.

PERTUMBUHANNYA

Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang.

KECERDASANNYA

Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:

1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.

2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.

3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.

4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”

MENUNTUT ILMU

Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.

GURU-GURU BELIAU

Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:

1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i4. Sufyan bin Uyainah5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:1. Malik bin Anas2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya

Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;

1.Mutharrif bin Mazin2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.

Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.2.Ismail bin Ulayah.3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.

MURID-MURID BELIAU

Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani3. Ishaq bin Rahawaih,4. Harmalah bin Yahya5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

KARYA BELIAU

Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.

PUJIAN ULAMA PARA ULAMA KEPADA BELIAU

Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,“Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy-Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”

PRINSIP AQIDAH BELIAU

Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,“Tidak ada yang menyerupaiNya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

PRINSIP DALAM FIQIH

Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

SIKAP IMAM ASY-SYAFI`I TERHADAP AHLUL BID’AH

Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”

PESAN IMAM ASY-SYAFI`I

“Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

WAFAT BELIAU

Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”

KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI`I

“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

Thursday, April 9, 2015

52 Kiat Untuk Para Suami Agar Disayang Istri

52 Kiat Untuk Para Suami Agar Disayang Istri
1. Berhiaslah untuk isteri anda sebagaimana anda senang apabila ia berhias untuk anda.
2. Merayu isteri dan mencandainya.
3. Mempergaulinya dengan lemah lembut dan kasih sayang.
4. Penuhi kesenangannya untuk berbicara dan bercakap-cakap (bercengkerama).
5. Panggillah isteri dan nama kesukaannya.
6. Jauhilah sikap emosional dan tempramental.
7. Berilah isteri anda rasa aman dan tenang.
8. Membuatnya gembira dengan pemberian yang mengejutkan.
9. Masuklah ke dalam rumah dengan wajah berseri-seri dan tersenyum.
10. Berlemahlembutlah dalam berbicara.
11. Bicarakanlah sesuatu yang menyenangkannya.
12. Memujinya di hadapan keluarga anda dan keluarganya.
13. Menghargai penampilannya.
14. Berikanlah hadiah (romantis) semisal bunga atau selainnya sebagai penguat cinta diantara keduanya.
15. Hilangkanlah kejenuhan rutinitas sehari-hari dengan bertamasya (rihlah) atau selainnya.
16. Terimalah kekurangan-kekurangannya karena tidak ada manusia yang sempurna.
17. Jagalah diri dari perkara-perkara sepele yang dapat bertumpuk menjadi masalah besar.
18. Bantulah isteri anda dalam urusan-urusan rumah tangga.
19. Jangan kikir dengan perasaan anda. Ekspresikan perasaan anda kepadanya dengan kelembutan dan kejujuran.
20. Hargai akal dan buah pemikirannya.
21. Selalulah berbaik sangka kepada dirinya.
22. Bangkitkanlah perasaannya bahwa ia adalah wanita yang ideal bagi anda.
23. Bantulah ia meningkatkan kemampuannya.
24. Jagalah perasaannya terutama di saat haidh dan hamil.
25. Bantulah dirinya di dalam mengurusi anak-anak.
26. Hormati keluarganya, berbuat baik kepada mereka dan tidak melarangnya untuk mengunjungi keluarganya.
27. Makan bersama di rumah atau tempat lain yang tenang dan aman dari fitnah.
28. Berikan pujian dan sanjungan kepada dirinya.
29. Jagalah rahasianya dan janganlah menyebarkannya.
30. Jagalah hak-haknya dan janganlah menyia-nyiakannya.
31. Berbuat adillah kepada dirinya.
32. Perlakukanlah dirinya dengan baik dan lemah lembut.
33. Bersikaplah realistis dan jadikanlah dirinya sebagai isteri yang ideal bagi anda.
34. Bekerja sama dengannya di dalam ketaatan kepada Alloh.
35. Janganlah anda terlalu sering meninggalkan dirinya dan rumah.
36. Yang lalu biarlah berlalu dan jangan suka mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu.
37. Jangan memberikan peluang kepada orang lain untuk mencampuri urusan rumah tangga anda.
38. Jauhi motivasi yang buruk tatkala menikah.
39. Jagalah kesehatannya secara intensif.
40. Ajaklah isteri anda ke dalam kebahagiaan anda.
41. Kirimlah surat kepadanya apabila anda jauh darinya.
42. Jelas dan tidak tergesa-gesa apabila anda meminta sesuatu padanya sehingga dia faham dan tidak bingung dengan apa yang anda inginkan.
43. Maklumilah kecemburuannya dan maafkanlah.
44. Bantulah dirinya di dalam menghadapi persoalan-persoalan yang menyusahkan dan membosankan.
45. Ikutilah petunjuk Islam ketika isteri anda berpaling.
46. Jangan menganggap diri anda selalu benar.
47. Mengikuti petunjuk Islam tatkala melakukan hubungan intim.
48. Tidak mendatangi isteri dari dubur atau tatkala haidh.
49. Menjaganya dari pandangan-pandangan jahat manusia.
50. Memberinya anggaran khusus selain biaya hidup sehari-hari.
51. Nikmatilah nikmatnya lupa terutama yang berkaitan dengan musibahmusibah yang menyedihkan, kesalahan-kesalahan dan perilaku isteri di masa lalu.
52. Janganlah anda menunggu-nunggu mukjizat, karena isteri anda adalah unik dengan karakternya dan janganlah anda memaksanya berubah sekehendak anda. Terimalah dirinya apa adanya, tutuplah mata dari kelemahankelemahannya dan bukalah mata dari kelebihan-kelebihannya. Insya Alloh isteri anda akan semakin mencintai anda.

10 Kiat Menjadi Suami Yang Baik

10 Kiat Menjadi Suami Yang Baik

Islam memberikan banyak kiat untuk menjadi suami yang baik. Bagaimanakah cara untuk menjadi suami yang baik? Berikut ini kami sampaikan 10 kiat, yaitu; 1. Mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf (baik)
Allah berfirman, artinya, “Dan bergaullah dengan mereka(para istri) dengan baik.” (QS. an-Nisa’: 19).
Ibnu Katsir berkata, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagaimana kalian suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).
2. Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal yang baik
Allah berfirman, artinya, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf.” (QS. al-Baqarah: 233).
Dalam firman-Nya yang lain, artinya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. ath-Thalaq: 7).
Rasulullah shallallohu ‘laihi wasallam bersabda, ketika haji wada’,
“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. (sampai perkataan beliau) Kewajiban kalian kepada istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim no. 1218).
Ibnu Katsir berkata, “Bapak dari si anak punya kewajiban memberi nafkah pada ibu si anak, termasuk pula dalam hal pakaian dengan cara yang ma’ruf (baik). Yang dimaksud dengan cara yang ma’ruf adalah dengan memperhatikan kebiasaan masyarakat tanpa berlebih-lebihan dan tidak pula pelit. Hendaklah ia memberi nafkah sesuai kemampuannya dan yang mudah untuknya, serta bersikap pertengahan dan hemat.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).
3. Mengajari istri ilmu agama
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs. at-Tahrim: 6).
‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah mengatakan, “Ajarilah adab dan agama kepada mereka.”
Ibnu ‘Abbas berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan hati-hatilah dengan maksiat. Perintahkanlah keluargamu untuk mengingat Allah (berdzikir), niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari jilatan neraka.”
Mujahid berkata,“Bertakwalah kepada Allah dan nasihatilah keluargamu untuk bertakwa kepada-Nya.”
Adh-Dhahak dan Maqatil berkata,“Kewajiban bagi seorang muslim adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, budak laki-laki atau perempuannya perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).
Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana jika kita tidak bisa mendidik istri, karena kita sendiri kurang dalam hal agama?”
Jawab, hendaklah Anda memperbaiki diri. Berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam sehingga Anda bisa memperingatkan dan mendidik istri. Jika tidak bisa, hendaklah mengajaknya datang ke majelis ilmu sebagaimana Anda pun demikian. Atau, cara lain yang dapat meningkatkan keberagamaan Anda dan istri lebih baik dari sebelumnya.
4. Meluangkan waktu untuk bercanda dengan istri tercinta
Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, ‘Aisyah, Ia pernah bersama Nabi dalam safar(bepergian). ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau. ‘Aisyah berkata,
Akupun mengalahkan beliau. Tatkala aku sudah bertambah gemuk, aku berlomba lari lagi bersama Rasul, namun kala itu beliau mengalahkanku. Lantas beliau bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud no. 2578).
5. Mengajak istri dan anak untuk rajin beribadah
Allah berfirman, artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” ( QS. Thaha : 132).
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur 10 tahun.” (HR. Abu Daud, no. 495).
“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya…” (HR. Abu Daud, no. 1450).
6. Melihat sisi positif istri Anda
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika sang suami tidak menyukai suatu akhlak pada sang istri, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim, no. 1469).
7. Jangan memukul istri tanpa alasan syar’i, dan kalaupun ada maka jangan memukul wajah istri dan jangan pula menjelek-jelekkannya
Mu’awiyah al Qusyairi, pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah bersabda,
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan jangan engkau memukul wajah, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan pula mendiamkannya(dalam rangka nasihat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142).
8. Jangan meng-hajr (pisah ranjang dalam rangka mendidik) selain di dalam rumah
Allah berfirman, artinya, “Dan hajr-lah (pisahkanlah mereka) di tempat tidur mereka.”(Qs. an-Nisa: 34).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan bahwa maknanya adalah tidak satu ranjang dengannya dan tidak berhubungan intim dengan istri sampai ia sadar dari kesalahannya (Taisir al-Karimir Rahman, ibn Sa’di).
9. Membenahi Kesalahan Istri dengan Baik
“Dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya dia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya, niscaya akan patah, jika kamu membiarkannya, niscaya tetap bengkok, maka berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan.” (HR. Muslim, no.3720).
10. Memberikan nafkah batin
Inilah salah satu pelajaran dari hadits Abu Darda’ berikut ini.
Nabi mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Suatu saat Salman mengunjungi –saudaranya- Abu Darda’. Ketika itu Salman melihat Ummu Darda’, dalam keadaan tidak gembira. Salman pun berkata kepada Ummu Darda’, “Kenapa keadaanmu seperti ini?” “Saudaramu, Abu Darda’, seakan-akan ia tidak lagi mempedulikan dunia”, jawab wanita tersebut. Ketika Abu Darda` tiba, dia membuatkan makanan untuk Salman lalu berkata, “Makanlah karena aku sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan hingga kamu ikut makan.” Akhirnya Abu Darda’ pun makan.
Ketika tiba waktu malam, Abu Darda’ beranjak untuk melaksanakan shalat namun Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah.’ Abu Darda` pun tidur, tidak berapa lama kemudian dia beranjak untuk mengerjakan shalat, namun Salman tetap berkata, ‘Tidurlah.’ Akhirnya dia tidur. Ketika di akhir malam, Salman berkata kepadanya, ‘Sekarang bangunlah,’ Abu Juhaifah berkata, ‘Keduanya pun bangun dan melaksanakan shalat, setelah itu Salman berkata, ‘Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dan badanmu memiliki hak, istrimu memiliki hak atas dirimu, maka berikanlah hak setiap yang memiliki hak.’” Selang beberapa saat Nabi datang, lalu hal itu diberitahukan kepada beliau, Nabi bersabda, “Salman benar.” (HR. al-Bukhari, no. 968).
Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang suami wajib menyetubuhi istrinya sesuai dengan kemampuan suami dan kecukupan istri.
Akhirnya, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan segala hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Amien. Allahu a’lam.

Monday, March 30, 2015

Hukum Mandi Junub

Hukum Mandi Junub
Assalamualaikum wr. wb. Saya telah berkeluarga dengan 1 orang putra. Adapun permasalahan yang saya hadapi adalah apabila saya telah berhubungan dengan istri di malam hari, kemudian masuk waktu subuh, saya dan juga istri langsung salat subuh hanya dengan membasuh alat kelamin saja tanpa harus mandi dulu, karena saya pernah membaca di salah satu artikel Al-Islam jum’at di mesjid raya Bogor, Berdasarkan hadis, bila Rasulullah pernah melakukan hal ini dengan syarat apa, itu yang saya lupa. Mohon tanggapannya, terima kasih. Wassalam. (Mohamad Andri, Bogor)
Jawaban:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Maaidah: 6)
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. katanya, “Apabila Rasulullah saw. mandi junub, Rasulullah mengawalinya dengan mencuci kedua tangan. Beliau menuangkan air dengan menggunakan tangan kanan ke tangan kiri, kemudian mencuci kemaluan dan berwudu sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ingin mendirikan salat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sampai rata. Setelah selesai, beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, seterusnya baginda membasuh seluruh tubuh dan akhirnya membasuh kedua kaki.” (HR Bukhari).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. katanya, “Nabi saw. bersabda, ‘Apabila seorang lelaki duduk di antara empat cabang milik perempuan, kemudian menyetubuhinya, maka dia wajib mandi.” (HR Bukhari).
Diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a. katanya, “Ummu Sulaim pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang mimpi yang berlaku kepada seorang perempuan sebagaimana mimpi seorang lelaki. Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila perempuan tersebut bermimpi keluar mani, dia wajiblah mandi junub.’ Ummu Sulaim berkata, ‘Aku malu untuk bertanya hal tersebut yang terjadi pada diriku.’ Ummu Salamah berkata, ‘Apakah hal ini terjadi pada perempuan?’ Nabi saw. bersabda, ‘Ya’, lalu Ummu Salamah bertanya, ‘Bagaimana dia ingin memastikannya.’ Nabi saw. bersabda, ‘Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kasar dan berwarna putih, adapun mani perempuan itu halus dan berwarna kuning. Setiap mani yang menyerupai mani lelaki atau perempuan, sudah pasti mani tersebut adalah darinya.”
Dalam ayat dan beberapa hadis tersebut di atas terlihat jelas bahwa apabila seorang junub, baik karena berhubungan suami istri atau mimpi, maka sudah menjadi kewajiban untuk mandi janabah (mandi junub). Seorang yang junub boleh saja tidak mandi janabah dengan syarat dia dalam keadaan tidak ada air, atau sakit yang menurut dokter dia tidak boleh kena air, sebagaimana yang ada dalam beberapa hadis dan kitab-kitab fikih. Dalam keadaan demikian disebut darurat. Sekian, wallahu a’lam.
Play Crypto Mining Game


Fire Faucet : The Best Auto Faucet